[Bukan Kampanye] Debat Capres di MetroTV, Bukan Pakdhe yang Menang

Akhirnya ane angkat artikel ini ke blog, karena posting di forum malah dihapus sama adminya. Padahal sudah saya jelaskan bahwa tulisan ini hanya analisa pribadi dan dihubungkan dengan pengalaman ane didunia HRD. Bahkan refrensi juga sudah saya masukkan. Tapi apa daya kalau memang adminya tidak berkenan. Kalau disini kan adminya ane sndiri. Hahaha

Siapa Selanjutnya?

Presiden Kita

Habis kencan sama cewek ane uda agak malem, ane tancap gas aja. Melewati beberapa warung kopi lesehan tongkrongan anak muda sapa sangka nobarnya debat capres, setelah itu ambil laundry TV yg ditayangkan juga debat capres, beli lalapan yg ditayangkan juga debat capres. Montor GP uda kalah dah. Artinya apa? Artinya adalah 2 capres kali ini adalah putra-putra terbaik bangsa ini.

Ane pulang buru-buru soalnya emang mau nonton debat capres juga, sampek dikontrakan anak-anak sudah lihat debat capres juga. Dalam hati ane cuma bilang ini orang-orang bener bingung mau pilih yang mana. Beda dengan pilpres sebelumnya yang gak terlalu digubris.

Balik ke topik ya gan, jika agan-agan lihat beberapa pemberitaan yang agak netral (sory gan seperti uda jarang media informasi yang netral 100%) banyak pengamat yang mengatakan bahwa Jokowi lah yang menang dalam debat capres hari Minggu malam. Tapi menurut ane kok lain, yaitu Prabowo yang berhasil (ingat kata yang ane garis bawahi ini).

Secara garis besar Pakdhe memang diatas awan, secara beliau memang ada di pemerintahan sejak lama, sehingga pendapat dan ide-ide yang aplikatif lebih kentara dibandingkan Pak Prabowo. Para ahli berpendapat bahwa pukulan telak di Pak Prabowo pada waktu tidak mengenal singkatan dan menyetujui pendapat Pakde Jokowi.

Pada waktu bertanya singkatan yang dimaksud okelah itu tidak terlalu menjadi masalah ane lihat ekspresi pakde juga santai. Tapi pada waktu Pak Prabowo menyetujui pendapat Pakdhe Jokowi, Pakdhe terlihat menampakkan ekspresi kemenangan. Itu adalah kesalahan fatal menurut ane karena sebagai rival seharusnya menghormati lawan dan itu ditampilkan oleh televisi. Itu pertama.

Kedua, Pak Prabowo menunjukkan sesuatu yang tidak terduga dengan menyetujui pendapat Pakdhe dan mengesampingkan pesan dari para penasihatnya yg katanya harus tidak setuju dengan pendapat Pakdhe Jokowi. Agan-agan masih ingat thread mengenai “Google tidak memerlukan Ijazah”? Google mengedepankan apa yang disebut “kerendahan hati intelektual” (disini) menerima ide-ide dari orang lain saat ide itu memang bagus, lebih dari yang mereka miliki. Itulah kerendahan hati yang Google maksud, ujar Laszlo Bock pimpinan operasional Google. Yang itu sangat jarang dimiliki para politisi hari ini. Dan Pak Prabowo menunjukkan itu. Menunjukkan didepan jutaan rakyat Indonesia yang menyaksikan. Ambil perumpamaan saja, jika agan dalam seleksi karyawan dihadapkan pada Focus Discussion Group (FGD), mungkin kecil kemungkinan agan menyetujui lawan dalam FGD tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s